Sabtu, 15 April 2017

Hasil Kebudayaan Dinasti Bani Umayyah

A.      Hasil Kebudayaan Dinasti Bani Umayyah

Ekspansi yang dilakukan oleh dinasti Bani Umayyah inilah yang membuat islam menjadi Negara besar pada zaman itu, dari persatuan berbagai Bangsa di bawah naungan islam. Timbullah benih-benih kebudayaan dan perradaban islam yang baru, walaupun Bani Umayyah lebih banyak memusatkan perhatiannya kepada kebudayaan Arab. Muawiyah juga mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap serta perlengkapan disepanjang jalan dan menertibkan angkatan bersenjata dan juga mencetak mata uang.
Pada masa Abdul Al-Malik adanya perubahan bahasa administrasi Yunani dan bahasa Pahlawi ke bahasa Arab, yang pada saat itu orang-orang bukan Arab telah mulai pandai berbahasa Arab.
Selain mengubah bahasa administrasi, pada masa Abdul Al-Malik mengubah mata uang yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam, yang sebelumnya menggunakan mata uang Bizamtium dan Persia seperti Dinar dan Dirham. Sebagai pengganti dari mata uang asing itu Abd Al-Malik mencetak uang sendiri taun 659 M, dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Dinar dibuat dari emas dan Dirham dari perak. Keberhasilan beliau diikuti oleh putranya Al-Walid ibn Abd Al-Malik (705-715 M) dengan membangun panti untuk orang cacat, memangun jalan-jalan raya untuk menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan, dan masjid-masjid yang megah.
Pada masa Bani Umayyah muncul kembali perhatian kepada syair Arab Jahilliah dan penyair-penyair Arab barupun timbul kembali, seperti Umar Ibnu Rabi’ah, Jamil Al-Udhri, Kays Ibnu Al-Mulawwah yang dikenal dengan nama Majnun Laila.[1] Dan ada juga perhatian kepada tafsir, hadis, fiqih, dan ilmu kalam, serta di zaman inilah di mulai dan timbullah nama-nama seperti Hasan Al-Nasyri, Ibnu Shihah Al-Zuhri, dan Wasil Ibnu Ata. Yang menjadi pusat dari kegiatan-kegiatan ilmiah ini adalah Qufah dan Basrah di Irak.
Di masa Bani Umayyah ini, ada gereja yang diubah menjadi masjid, yaitu Katedral St. John di Damaskus. Sedangkan Katedral yang ada di Hims, di pakai sekaligus untuk masjid dan gereja, diluar semenanjung Arabiah juga di bangun masjid-masjid. Abd Malik membangun masjid Al-Aqsa di Al-Quds di Jerussallim. Monument terbaik yang ditinggalkan zaman ini untuk generasi sesudahnya ialah Qubbah Al-Sakhr (Dome of The Rock) juga di Al-Quds. Masjid Cordova juga di zaman inilah di bangun. masjid Mekah dan Medinah diperbaiki dan diperbesar oleh Abd Al-malik dan Al-Walid.
Selain dari masjid, dinasti Bani Umayyah juga mendirikan istana-istana untuk tempat beristirahat di padang pasir, seperti Qusayr Amrah dan Al-Mushatta, yang bekas-bekasnya masih ada sampai sekarang.[2]


BAB III
KESIMPULAN
Kekuasaan Bani Umayah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota daulah Amawiyah dipindahkan oleh Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, sebuah kota tua di negeri Syam. Khalifah-khalifah besar yang ada di dinasti Bani Umayah ini adalah : Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M), Abd Al-Malik ibn Marwan (685-705 M), Al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abd-aziz (717-720 M), Hasyim ibn Abd Al-Malik (724-743).



[1] Haru nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya jld. 1. (Jakarta : UI Perss, 2001), hlm. 57
[2] Ibid, hlm. 58

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendidikan Anak dalam Perspektif Al Qur'an

BAB I PENDAHULUAN A.        Latar Belakang Anak dalam perspektif Islam merupakan rahmat dari Allah yang diberikan kepada orang tua, d...