A. Hasil Kebudayaan Dinasti Bani
Umayyah
Ekspansi
yang dilakukan oleh dinasti Bani Umayyah inilah yang membuat islam menjadi
Negara besar pada zaman itu, dari persatuan berbagai Bangsa di bawah naungan islam.
Timbullah benih-benih kebudayaan dan perradaban islam yang baru, walaupun Bani
Umayyah lebih banyak memusatkan perhatiannya kepada kebudayaan Arab. Muawiyah
juga mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda
yang lengkap serta perlengkapan disepanjang jalan dan menertibkan angkatan
bersenjata dan juga mencetak mata uang.
Pada masa Abdul Al-Malik adanya
perubahan bahasa administrasi Yunani dan bahasa Pahlawi ke bahasa Arab, yang
pada saat itu orang-orang bukan Arab telah mulai pandai berbahasa Arab.
Selain mengubah bahasa administrasi,
pada masa Abdul Al-Malik mengubah mata uang yang dipakai di daerah-daerah yang
dikuasai Islam, yang sebelumnya menggunakan mata uang Bizamtium dan Persia
seperti Dinar dan Dirham. Sebagai pengganti dari mata uang asing itu Abd
Al-Malik mencetak uang sendiri taun 659 M, dengan memakai kata-kata dan tulisan
Arab. Dinar dibuat dari emas dan Dirham dari perak. Keberhasilan beliau diikuti
oleh putranya Al-Walid ibn Abd Al-Malik (705-715 M) dengan membangun panti
untuk orang cacat, memangun jalan-jalan raya untuk menghubungkan suatu daerah dengan
daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan, dan masjid-masjid
yang megah.
Pada masa Bani Umayyah muncul kembali
perhatian kepada syair Arab Jahilliah dan penyair-penyair Arab barupun timbul
kembali, seperti Umar Ibnu Rabi’ah, Jamil Al-Udhri, Kays Ibnu Al-Mulawwah yang
dikenal dengan nama Majnun Laila.[1]
Dan ada juga perhatian kepada tafsir, hadis, fiqih, dan ilmu kalam, serta di
zaman inilah di mulai dan timbullah nama-nama seperti Hasan Al-Nasyri, Ibnu
Shihah Al-Zuhri, dan Wasil Ibnu Ata. Yang menjadi pusat dari kegiatan-kegiatan
ilmiah ini adalah Qufah dan Basrah di Irak.
Di masa Bani Umayyah ini, ada gereja
yang diubah menjadi masjid, yaitu Katedral St. John di Damaskus. Sedangkan
Katedral yang ada di Hims, di pakai sekaligus untuk masjid dan gereja, diluar
semenanjung Arabiah juga di bangun masjid-masjid. Abd Malik membangun masjid
Al-Aqsa di Al-Quds di Jerussallim. Monument terbaik yang ditinggalkan zaman ini
untuk generasi sesudahnya ialah Qubbah Al-Sakhr (Dome of The Rock) juga di Al-Quds. Masjid Cordova juga di zaman
inilah di bangun. masjid Mekah dan Medinah diperbaiki dan diperbesar oleh Abd
Al-malik dan Al-Walid.
Selain dari masjid, dinasti Bani Umayyah
juga mendirikan istana-istana untuk tempat beristirahat di padang pasir,
seperti Qusayr Amrah dan Al-Mushatta, yang bekas-bekasnya masih ada sampai
sekarang.[2]
BAB III
KESIMPULAN
Kekuasaan Bani Umayah berumur kurang
lebih 90 tahun. Ibu kota daulah Amawiyah dipindahkan oleh Muawiyah dari Madinah
ke Damaskus, sebuah kota tua di negeri Syam. Khalifah-khalifah besar yang ada di
dinasti Bani Umayah ini adalah : Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M), Abd
Al-Malik ibn Marwan (685-705 M), Al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn
Abd-aziz (717-720 M), Hasyim ibn Abd Al-Malik (724-743).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar